Tampilkan postingan dengan label Artikel Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel Islam. Tampilkan semua postingan

Manfaat Wudhu Sebelum Tidur

by 4:25:00 PM
Bismillah...
Assalamu alaikum Wr. Wb.
Memang ini kedengarannya sepele. Tapi jangan anggap enteng soal ini, pasalnya nabi senantiasa wudhu sebelum tidur. berwudhu disamping bernilai ibadah juga bermanfaat besar bagi kesehatan.

Peneliti dari Universitas Alexsandria, dr musthafa syahatah ,yang sekaligus menjabat sebagai Dekan Fakultas THT, menyebutkan bahwa jumlah kuman pada orang yang berwudhu lebih sedikit dibanding orang yang tidak berwudhu.

Dengan ber-istisnaq (menghirup air dalam hidung) misalnya kita dapat mencegah timbulnya penyakit dalam hidung. Dengan mencuci kedua tangan, kita dapat menjaga kebersihan tangan. Kita juga bisa menjaga kebersihan kulit wajah bila kita rajin berwudhu. Selain itu, kita juga bisa menjaga kebersihan daun telinga dan telapak kaki kita, artinya dengan sering berwudhu kita dapat menjaga kesehatan tubuh kita. 

Lalu, bagaimana jika berwudhu dilakukan sebelum tidur ? Nah, para pakar kesehatan di dunia senantiasa menganjurkan agar kita mencuci kaki mulut dan muka sebelum tidur. Bahkan, sejumlah pakar kecantikan memproduki alat kecantikan agar dapat menjaga kesehatan kulit muka.

Di samping itu tentunya anjuran untuk berwudhu juga mengandung nilai ibadah yang tinggi. Sebab ketika seseorang dalam keadaan suci. Jika seseorang berada dalam keadaan suci, berarti ia dekat dengan Allah. Karena Allah akan dekat dan cinta kepada orang-orang yang berada dalam keadaan suci. 

Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa tidur dimalam hari dalam keadaan suci (berwudhu’) maka Malaikat akan tetap mengikuti, lalu ketika ia bangun niscaya Malaikat itu akan berucap ‘Ya Allah ampunilah hamba mu si fulan, kerana ia tidur di malam hari dalam keadaan selalu suci’”. (HR Ibnu Hibban dari Ibnu Umar r.a.)


Hal ini juga ditulis dalam kitab tanqih al-Qand al-Hatsis karangan syekh muhamad bin umar an-nawawi al-mantany. Dari umar bin harits bahwa nabi bersabda : “barangsiapa tidur dalam keadaan berwudhu, maka apabila mati disaat tidur maka matinya dalam keadaan syahid disisi allah. Maksudnya orang yang berwudhu sebelum tidur akan memperoleh posisi yang tinggi disisi Allah.

Dengan begitu dapat disimpulkan bahwa berwudhu sebelum tidur merupakan anjuran nabi yang harus dikerjakan bila seseorang ingin memperoleh kemuliaan disisi Allah.

Manfaat Wudhu Sebelum Tidur
Pertama, merilekskan otot-otot sebelum beristirahat. Mungkin tidak terlalu banyak penjelasan. Bisa dibuktikan dalam ilmu kedokteran bahwa percikan air yang dikarenakan umat muslim melakukan wudhu itu merupakan suatu metode atau cara mengendorkan otot-otot yang kaku karna lelahnya dalam beraktifitas. Sangat diambil dampak positifnya bahwa jika seseorang itu telah melakukan wudhu, maka pikiran kita akan terasa rileks. Badan tidak akan terasa capek.
Kedua, mencerahkan kulit wajah. Wudhu dapat mencerahkan kulit wajah karena kinerja wudhu ini menghilangkan noda yang membandel dalam kulit. Kotoran-kotoran yang menempel pada kulit wajah kita akan senantiasa hilang dan tentunya wajah kita menjadi cerah dan bersih.
Ketiga, didoakan malaikat. Dalam sabda Beliau yang disinggung pada bagian atas, malaikat akan senantiasa memberikan do’a perlindungan kepada umat muslim yang senantiasa wudhu sebelum tidur. Padahal malaikat adalah makhluk yang senantiasa berdzikir kepada Allah. niscaya do’anya akan senantiasa dikabulkan pula oleh Allah. Oleh karena itu, senantiasa berwudhu itu adalah hal yang wajib kita lakukan.

Fenomena Meninggal Dunia Saat Tidur Dalam Sunnah
                
Jauh-jauh hari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sudah memberikan bimbingan dalam tidur agar tidak menimbulkan bahaya, di antaranya tidur sambil miring ke kanan, tidak tidur sambil tengkurap.

Diriwayatkan oleh al-Hakim dari Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu, Pernah suatu hari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melewati seseorang yang tidur tengkurap di atas perutnya, lalu beliau menendangnya dengan kakinya seraya bersabda,
“Sesungguhnya (posisi tidur tengkurap) itu adalah posisi tidur yang tidak disukai Allah Azza Wa Jalla.” (HR. Ahmad dan Al-Hakim).

Sesungguhnya sebab kematian itu bermacam-macam, namun kematian tetaplah satu. Selain Sleep Apnea masih ada sebab lainnya yang menjadi media datangnya kematian. Karenanya, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan tips terbaik bagi umatnya dalam menghadapi kematian yang datangnya tak terduga ini.

Disebutkan dalam Shahihain, dari sabahat al-Bara’ bin Azib radliyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda kepadanya;

“Apabila engkau hendak mendatangi pembaringan (tidur), maka hendaklah berwudhu terlebih dahulu sebagaimana wudhumu untuk melakukan shalat.” (HR. Bukahri dan Muslim).

Dalam menjelaskan faidah dari perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ini, Al-Hafidz Ibnul Hajar menyebutkan hikmahnya, di antaranya yaitu: Agar dia tidur pada malam itu dalam keadaan suci supaya ketika kematian menjemputnya dia dalam keadaan yang sempurna. Dari sini diambil kesimpulan dianjurkannya untuk bersiap diri untuk menghadapi kematian dengan menjaga kebersihan (kesucian) hati karena kesucian hati jauh lebih penting daripada kesucian badan.

Imam al-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menyebutkan tiga hikmah berwudlu sebelum tidur (yang maksudnya tidur dalam keadaan suci). Salah satunya adalah khawatir kalau dia meninggal pada malam tersebut.

Abdul Razak mengeluarkan sebuah atsar dari Mujahid dengan sanad yang kuat, Ibnu Abbas radliyallahu ‘anhuma berkata,

“Janganlah engkau tidur kecuali dalam kondisi berwudlu (suci), karena arwah akan dibangkitkan sesuai dengan kondisi saat dia dicabut.”

Akhlak Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam

by 7:14:00 PM
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam adalah manusia yang paling pemberani. Ali bin Abi Thalib bertutur: “Bila perang tengah berkecamuk, kami berlindung kepada Rasulullah“. Beliau orang yang paling dermawan. Tak pernah menolak permintaan orang lain. Orang yang paling lembut. Orang yang pemalu, lebih pemalu dari seorang gadis yang dipingit. Pandangan tidak tertuju hanya pada satu orang. Tidak pernah balas dendam saat disakiti orang lain, atau marah atas perbuatan jelek orang padanya; kecuali jika hukum-hukum Allah SWT dilanggar, maka balas dendam yang dia lakukan semata-mata karena Allah SWT. Bila marah karena Allah  SWT tiada seorang pun yang berani membantah. Siapa pun, baik yang kuat, lemah, jauh maupun dekat diperlakukan sama olehnya.

Tidak pernah mencela makanan; bila menghendaki, beliau makan; bila tidak suka, beliau tinggalkan. Tidak pernah makan dengan bersandar, atau pun di meja makan. Tidak pernah menolak makanan yang boleh untuk dimakan; bila hanya menjumpai kurma, atau hanya roti kering, atau daging panggang beliau makan, atau hanya roti dari gandum, beliau makan seadanya. Bila ada susu, cukup beliau minum itu saja. Pernah  makan semangka basah. Beliau menyukai manisan dan madu. Abu Hurairah ra berkata: “Sampai wafatpun Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tidak merasa  pernah kenyang, meski hanya dengan roti gandum“.

Pernah terjadi pada keluarga Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam selama tiga bulan, tiada nyala api di rumahnya (memasak) makanan mereka hanya kurma dan air. Menerima dan makan hadiah, serta membalasnya; dan tidak menerima sedekah. Tidak berlebihan dalam berpakaian dan makanan; berpakaian dan makan seadanya. Menambal sandal dan baju sendiri, membantu aktifitas rumah tangganya. Menjenguk orang sakit.Sangat tawadhu’. Menghadiri  undangan siapa saja baik kaya, fakir, orang berada maupun orang rendahan. Mencintai orang-orang miskin; menjenguk mereka yang sakit dan melayat jenazah mereka. Tidak menghina orang fakir karena kefakirannya dan tidak takut pada penguasa karena kekuasaannya. Mengendarai kuda, onta, keledai, dan bagal. Memboncengkan budak atau yang lainnya. Tidak membiarkan orang lain berjalan di belakangnya seraya berkata:“Biarkan di belakangku untuk para Malaikat“ Mengenakan kain wol, memakai sandal yang ditambal. Pakaian yang amat beliau sukai adalah jubah yang terdapat warna merah dan putih,  terbuat dari kain Yaman   Cincin dan matanya terbuat dari Perak. Dipakai di jari manis kanan, dan terkadang di sebelah kiri. Pernah mengganjal perutnya dengan batu karena menahan lapar, padahal Allah telah memberikan kunci -kunci pembendaharaan langit dan bumi, tetapi beliau enggan menerimanya dan lebih memilih akherat. Ia banyak berdzikir dan sedikit main-main. Memanjangkan shalat dan menyingkat khutbah. Paling murah senyum, berseri-seri wajahnya padahal ia selalu sedih dan banyak pikiran. Menyukai wangi-wangian, membenci bau yang tidak sedap. Bersahabat dan menghormati orang-orang mulia, tidak pernah bermuka masam dan ramah pada siapapun. Mentolerir permainan yang tidak dilarang, bergurau, dan tetap berkata benar dalam gurauannya, memaafkan orang-orang yang meminta maaf. Memiliki budak laki-laki dan perempuan; pakaian dan makanannya tidak pernah melebihi mereka.

Waktunya hanya dihabiskan untuk ibadah pada Allah, atau memenuhi kebutuhan diri dan keluarganya.Menggambalakan kambing, dan berkata: “Seluruh nabi melakukan gembala kambing“  

Aisah ra pernah ditanya tentang akhlak Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, maka dia pun menjawab: ”Akhlak beliau adalah alQur’an”. Marah dan ridhanya berpijak padanya.

Dalam riwayat yang shahih dari Anas bin Malik ra berkata:
Tidak pernah aku menyentuh sutera yang lebih halus dari telapak tangan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, dan tidak pernah aku mencium bau yang lebih harum dari aroma tubuh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Setelah aku melayaninya selama 10 tahun, tak pernah sekalipun ia berkata:“cih“. Dan tidak pernah mengatakan terhadap apa yang kulakukan:“Kenapa kau lakukan itu?“.Dan tidak pernah mengatakan terhadap apa yang tidak kulakukan:“Mengapa tidak kau lakukan itu?

Allah telah mengumpulkan dalam dirinya kesempurnaan akhlak, keindahan perilaku. Allah memberikan padanya ilmu orang-orang terdahulu dan yang akan datang, yang di dalamnya terdapat keberuntungan dan keselamatan.Padahal ia adalah ummi, tidak bisa membaca dan menulis dan tidak memiliki guru dari kalangan manusia. Tumbuh di negeri yang tandus dan terbelakang. Allah memberikannya sesuatu yang tidak diberikan pada siapapun dari makhluknya, dan telah memilihnya diantara makhluk-makhlukNya, baik yang lalu maupun yang akan datang.Semoga Allah selalu memberikan shalawat kepadanya hingga hari akhir.

Dikutip dari Buku Sejarah Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam karya Al-Hafiz Abdul Ghani bin Abdul Wahid Al-Maqdisy

Urgensi Masjid

by 8:17:00 PM
Masjid adalah tempat yang digunakan untuk sujud, setiap tempat yang digunakan untuk berserah diri (beribadah)

Az Zujaj berkata : ‘Setiap tempat yang digunakan untuk berserah diri (beribadah) itulah masjid sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: ”Telah dijadikan bumi bagiku sebagai masjid dan sesuatu yang suci dan mensucikan.”


Kedudukan dan Keutamaan Masjid dalam Islam.
Masjid memiliki kedudukan dan peran yang sangat penting dalam pembinaan ummat, sebab hampir setiap sendi-sendi pembinaan yang bersifat ruhiyah dilakukan di masjid, karena masjid adalah rumah Allah, di dalamnya seseorang dapat mengingat Allah, memberikan nasehat, shalat dan orang yang menziarahinya, berarti telah meramaikannya. Masjid ibarat menara petunjuk dan syiar Islam, bahkan ia merupakan lembaga pertama kali dimana pancaran ilmu pengetahuan Islam mulai tersebar. Diantara keutamaan-keutamaan masjid adalah

Masjid adalah rumah Allah, maka tidak layak bagi orang yang menyekutukan Allah berada dalam masjid. Sebagaimana firman Allah
“Dan Sesungguhnya masjid-masjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seseorangpun di dalamnya di samping (menyembah) Allah”

Ketenangan akan didapat bagi orang yang membaca dan mempelajari kitabullah dalam rumah Allah (masjid). Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam shahihnya, “Tidaklah sekelompok orang berkumpul di suatu masjid (rumah Allah) untuk membaca Al Qur’an, melainkan mereka akan diliputi ketenangan, rahmat, dan dikelilingi para malaikat, serta Allah akan menyebut-nyebut mereka pada malaikat-malaikat yang berada di sisi-Nya. Barang siapa yang ketinggalan amalnya, maka nasabnya tidak akan mempercepatnya.”

Manusia yang memakmurkan masjid adalah manusia-manusia pilihan Allah dari para Nabi dan para Rasul serta orang-orang yang mengikuti mereka dari orang-orang mukmin.
Firman Allah :
“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdo`a): “Ya Rabb kami terimalah dari kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Ya Rabb kami! Jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) di antara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadah kami dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.

Orang-orang yang memakmurkan masjid adalah orang-orang yang bersaksi atas keimanan kepada Allah.
Firman Allah
“Hanyalah yang memakmurkan, masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.”

Ibnu Katsir –rahimahullah- mengatakan; “Allah ta’ala bersaksi dengan keimanan bagai orang-orang yang memakmurkan masjid, sebagaimana perkataan Imam Ahmad dari Abu Sa’id Al Khudri bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Jika kalian melihat seseorang biasa mengunjungi masjid saksikanlah bahwa dia adalah seorang mu`min, ” Allah berfirman: “Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah adalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari kemudian.”

Allah menjanjikan seseorang yang membangun masjid dengan ikhlas mencari pahala dari Allah, maka Allah akan membangunkan rumah untuknya di surga. Sebagaimana hadits riwayat imam Bukhari, Muslim, Tirmidzi dan yang lainnya sebagai berikut
Dari Mahmud bin Labid bahwa Utsman bin Affan bermaksud hendak merenovasi masjid, tetapi kebanyakan orang mencegahnya. Mereka lebih suka membiarkan masjid sebagaimana adanya. Maka dia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam, bersabda: “Barangsiapa membangun masjid karena Allah, maka Allah akan membangunkan untuknya di surga seperti itu’.”

Allah akan menaungi seseorang yang hatinya selalu terpaut dengan masjid. Berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan yang lainnya sebagai berikut

Dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ada tujuh golongan manusia yang akan mendapat naungan Allah pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya; pemimpin yang adil, seorang pemuda yang menyibukkan dirinya dengan ‘ibadah kepada Rabbnya, seorang laki-laki yang hatinya terpaut dengan masjid, dua orang laki-laki yang saling mencintai karena Allah; mereka tidak bertemu kecuali karena Allah dan berpisah karena Allah, seorang laki-laki yang diajak berbuat maksiat oleh seorang wanita kaya lagi cantik lalu dia berkata, ‘Aku takut kepada Allah’, dan seorang yang bersedekah dengan menyembunyikannya hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya, serta seorang laki-laki yang berdzikir kepada Allah dengan mengasingkan diri hingga kedua matanya basah karena menangis.”
 

Hak Seorang Muslim Kepada Muslim Lainnya

by 8:57:00 PM
Di riwayatkan dari Abu Hurairah semoga Allah meridhoinya berkata: "Rasulallah Shalallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda :

حق المسلم على المسلم ست» قيل يا رسول الله وما هن؟ قال: «إذا لقيته فسلم عليه وإذا دعاك فأجبه وإذا استنصحك فانصح له وإذا عطس فحمد الله فشمته وإذا مرض فعده وإذا مات فأتبعه . (رواه مسلم)

"Hak seorang muslim kepada muslim lainnya ada enam". Di tanyakan kepada beliau, apa saja wahai Rasulallah? Beliau menjawab: "Jika engkau bertemu memberi salam kepadanya, jika engkau di undang mendatanginya, jika engkau di minta nasehat menasehatinya, dan jika ia bersin lalu mengucapkan alhamdulillah engkau membalas dengan mendo'akan yarhamukallah (semoga Allah merahmatimu) kepadanya, dan jika dia sakit engkau menjenguknya, jika dia meninggal engkau mengikuti jenazahnya". HR Muslim.

Inilah enam hak yang barangsiapa mampu menunaikannya kepada kaum muslimin maka di tuntut untuk menegakan hak lainnya yang lebih utama, sehingga dirinya bisa memperoleh kebaikan yang sangat banyak dan pahala yang besar dari Allah Ta'ala. Di antara hak-hak tersebut yaitu:

Pertama: Jika kamu berjumpa dengannya maka engkau segera memberi salam padanya, karena sesungguhnya ucapan salam tersebut menjadi sebab turunnya rasa cinta di antara kaum muslimin yang mana dengan rasa cinta itu mewajibkan keimanan kepada Allah Subhanahu wa ta'ala dan dengan sebab iman tersebutlah akan menjadikan dirinya masuk kedalam surga, hal itu sebagaimana yang telah di sabdakan oleh Nabi Shalallahu 'alaihi wa sallam:

"قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ((والذي نفسي بيده لا تدخلوا الجنة حتى تؤمنوا ولا تؤمنوا حتى تحابوا أفلا أدلكم على شيء إذا فعلتموه تحاببتم أفشوا السلام بينكم)) (رواه مسلم)
    
"Demi Dzat yang jiwaku berada di tanganNya, tidaklah kalian bisa masuk ke surga sampai kalian beriman dan tidak lah kalian di katakan beriman sampai saling mencintai, maukah kalian aku kasih tahu perkara yang jika kalian lakukan akan menjadikan kalian saling mencintai? (yaitu) tebarkanlah salam di antara kalian". HR Muslim.

Ucapan salam juga termasuk bagian dari keindahan agama Islam karena setiap satu dari dua orang muslim yang bertemu saling mendo'akan satu sama lain, dengan keselamatan, keburukan dan kejelekan, begitu juga mendo'akan dengan rahmat dan barokah yang mengantarkan kepadanya segala kebaikan, di samping mengucapkan salam juga di iringi dengan wajah yang bersinar, tersenyum sambil mengucapkan salam penghormatan lainya yang sesuai, sehingga muncullah persaudaran dan kasih sayang serta segera sirna rasa takut dan asing dari dirinya. Maka ucapan salam adalah hak seorang muslim bagi saudaranya muslim, dan wajib atas muslim yang satunya untuk membalas salamnya  dengan semisal atau yang lebih baik darinya, dan sebaik-baik serta semulia-mulianya orang di sisi Allah adalah yang memulai salam pada orang lain.

Kedua: Jika engkau di undang maka mendatanginya, yaitu apabila dirimu di undang untuk makan atau minum bersama, maka sebagai bentuk untuk menyenangkan hatinya yang sudah berusaha memuliakan dirimu maka wajib bagimu untuk mendatanginya, kecuali jika memang ada udzur syari'i yang tidak memungkinkan untuk mendatanginya, Nabi Shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ((من دعاكم فأجيبوه)) (رواه أبو داود والنسائي بسند صحيح)

"Barangsiapa yang mengundangmu maka datangilah". HR Abu Dawud dan Nasa'i dengan sanad yang shahih.

Ketiga: Jika dirimu di mintai nasehat maka berilah ia nasehat, yaitu ketika dirimu di minta untuk memberi pendapat pada suatu perkara atau pekerjaan dari perkerjaan-pekerjaan yang ia bingung apakah harus di kerjakan atau tidak? Maka berilah ia nasehat dengan pendapat yang kiranya kamu pun senang untuk melakukannya, jika pekerjaannya adalah sesuatu yang bermanfaat pada setiap sisinya maka berilah ia motivasi dan semangat untuk mengerjakanya, namun apabila pekerjaanya membahayakan maka cegahlah dan ingatkan darinya, dan jika pekerjaan tersebut mempunyai manfaat dan bahaya maka jelaskan padanya akan hal tersebut, supaya ia bisa menimbang antara baik dan buruknya serta manfaat dan mudharatnya, demikian pula jika dirimu dimintai pendapat dalam perkara hubungan dengan orang lain atau supaya menikahkan dengannya atau tentang pernikahan maka nampakan keseriusan untuk menanggapinya dengan memberi nasehat dan lakukan sesuai dengan kemampuan dan pendapat yang bagus seperti halnya memperlakukan itu untuk dirimu, dan ingatlah jangan sampai dirimu menipunya dalam perkara itu, karena barangsiapa yang menipu kaum muslimin maka dia bukan termasuk mereka dan dirinya telah meninggalkan kewajiban memebri nasehat, sebab nasehat ini adalah wajib pada setiap keadaan namun lebih di tegaskan lagi jika orang tersebut datang kepadamu untuk meminta nasehat dan meminta pendapat yang bermanfaat darimu, oleh karena itu di syarat pada keadaan seperti di atas untuk memberi nasehat sebagaimana di tegaskan dalam hadits "Agama adalah nasehat", di mana Nabi Shalallahu 'alaihi wa sallam mengatakannya tiga kali, hadits di riwayatkan oleh Imam Muslim. 

Keempat: Jika dirinya bersin lalu mengucapkan alhamdulillah maka berilah dia do'a yarhamukallah, karena bersin merupakan nikmat dari Allah Subahanahu wa ta'ala dengan keluarnya angin yang menekan pada sebagian anggota badan seorang manusia, yang mana Allah memudahkan baginya untuk keluar sehingga orang yang bersin merasa lega setelah keluar tekanan angin tersebut, maka di syari'atkan baginya untuk memuji kepada Allah Ta'ala atas nikmat ini dan di syari'atkan bagi saudaranya muslim yang mendengarnya untuk mendo'akan baginya yarhamukallah (semoga Allah merahmatimu) dan di perintahkan orang yang pertama untuk membalasnya kembali dengan mengucapkan yahdikumullah wa yuslihu baalakum (semoga Allah memberi hidayah kepadamu dan memperbaiki kondisimu). 

Dan barangsiapa yang tidak memuji Allah ketika bersin maka dirinya tidak berhak untuk mendapat do'a tidak pula mencela melainkan pada dirinya sendiri karena pada dasarnya dia telah melewatkan untuk dirinya dua nikmat sekaligus yang pertama nikmat memuji Allah dan nikmat mendapat do'a dari saudaranya yang terkait dengan ucapan pujian pada Allah. Dan di namakan do'a bagi orang yang bersin mendapat rahmat dengan tasmiyat di karenakan itu merupakan do'a  bagi orang yang bersin setelah hilang sesuatu yang mengganggu padanya, maka sebagai bentuk rasa bahagia kepadanya ketika hilang musibah tersebut, dia mendo'akan yarhamukallah kepadanya yang maknanya tetap di dalam jalan yang lurus dan istiqomah.

Kelima: Sabdanya Nabi Shalallahu 'alaihi wa sallam: "Jika saudarmu sakit maka engkau menjenguknya". Sesungguhnya menjenguk orang yang sedang sakit serta mengunjunginya termasuk bagian dari hak-haknya seorang muslim, lebih khusus lagi terhadap orang yang mempunyai hak bagimu, maka hal itu lebih di pertegas lagi perintahnya, seperti halnya kepada saudara kerabat, tetangga, orang yang mempunyai hubungan denganya, atau teman dekatnya. 

Menjenguk orang sakit merupakan amal sholeh yang paling utama, dan barangsiapa yang menjenguk saudaranya muslim maka senantiasa rahmat menaunginya dan jika ia duduk di sisinya maka turunlah rahmat tersebut, siapa yang menjenguk di waktu pagi maka para malaikat mendo'akan baginya sampai sore hari, siapa yang menjenguk di waktu sore maka para malaikat mendo'akan baginya sampai pagi hari hal itu sebagaimana yang di jelaskan dalam sebuah hadits yang di riwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan Abu Dawud. 
Seharusnya bagi orang yang datang menjenguk orang sakit untuk menyenangkan pikiran orang yang sedang sakit dengan kabar yang membahagiakan dan dengan kesehatan serta mendo'akannya supaya cepat sembuh, mengingatkan taubat dan inabah (kembali.pent) kepada Allah Subhanahu wa ta'ala, agar memperbanyak dzikir, do'a dan istighfar kepada Allah Ta'ala, menasehati supaya membikin wasiat yang kira-kira bermanfaat baginya. Dan jangan sampai duduk terlalu lama di sisinya namun sesuaikan dengan batasan orang yang menjenguk kecuali kalau memang di minta oleh orang yang sedang sakit supaya agak lama lagi dan duduk di sisinya maka setiap keadaan di sesuaikan dengan keadaanya.

Keenam: Termasuk haknya seorang muslim kepada saudaranya muslim yang lain adalah mengikuti jenazahnya ketika dia meninggal, karena barangsiapa yang mengikuti jenazahnya sampai dia di sholati maka baginya pahala satu qiroth (pahala semisal gunung yang sangat besar) ketika dia mengikutinya sampai di kubur maka mendapat pahala dua qiroth .

Mengikuti jenazah maka padanya mempunyai hak bagi Allah, haknya mayit dan haknya keluarga yang di tinggal meninggal.

Faidah yang bisa di ambil dari hadits di atas adalah:

  1. Bimbingan dalam masalah haknya seorang muslim kepada saudaranya muslim di mana saling mengikat keduanya dalam agama Islam.
  2. Di sunahkanya menebarkan salam, memenuhi undangan, memberi nasehat kepada sesama muslim, mendo'akan orang yang bersin, menjenguk orang sakit dan mengikuti jenazah.
  3. Keutamaan perkara-perkara di atas serta anjuran untuk mengerjakannya.
Dikutip dari buku Kesempurnaan Agama Islam karangan Syaikh Abdullah bin Jarullah Al Jarullah

Hubungan Al-Qur'an & Assunnah

by 8:35:00 PM

Bismillah...
Assalamu Alaikum Wr. Wb.

Pada dasarnya Al-Qur'an dan As-sunnah adalah dua hal yang sangat penting untuk diperhatikan oleh setiap kaum muslimin. Jika ditinjau Dari Hukum Yang Ada Maka Hubungan As-Sunnah Dengan Al-Qur’an, Sebagai Berikut : 

As-Sunnah berfungsi sebagai penguat hukum

Dengan demikian hukum tersebut mempunyai dua sumber dan terdapat pula dua dalil. Yaitu dalil-dalil yang tersebut di dalam Al-Qur’an dan dalil penguat yang datang dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. berdasarkan hukum-hukum tersebut banyak kita dapati perintah dan larangan. Ada perintah shalat, membayar zakat, berpuasa di bulan Ramadhan, ibadah haji ke Baitullah, dan disamping itu dilarang menyekutukan Allah, menyakiti kedua orang tua serta banyak lagi yang lainnya. 

As-Sunnah itu berfungsi sebagai penafsir atau pemerinci 

Sebagai penafsir atau pemerinci hal-hal yang disebut secara mujmal dalam Al-Qur’an, atau memberikan taqyid, atau memberikan takhshish dari ayat-ayat Al-Qur’an yang muthlaq dan ‘am. Karena tafsir, taqyid dan takhshish yang datang dari As-Sunnah itu memberi penjelasan kepada makna yang dimaksud di dalam Al-Qur’an.Dalam hal ini Allah telah memberi wewenang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk memberikan penjelasan terhadap nash-nash Al-Qur’an dengan firman-Nya. 

“Artinya : .Dan Kami turunkan kepadamu Al-Qur’an, agar kamu menerangkan kepada ummat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan”. [An-Nahl : 44]

Diantara contoh As-Sunnah men-takhshish Al-Qur’an adalah :

“Artinya : Allah mensyari’atkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu, Yaitu : bahagian seorang anak lelaki sama dengan bahagian dua orang anak perempuan“. [An-Nisaa : 11] 

Ayat ini ditakhshish oleh As-Sunnah :

para nabi tidak boleh mewariskan apa-apa untuk anak-anaknya dan apa yang mereka tinggalkan adalah sebagai sadaqah. tidak boleh orang tua kafir mewariskan kepada anak yang muslim atau sebaliknya, dan.. pembunuh tidak mewariskan apa-apa [Hadits Riwayat Tirmidzi dan Ibnu Majah] 

As-Sunnah Mentaqyid Kemutlakan Al-Qur’an. 

“Artinya : Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya..” [Al-Maidah : 38]. 

Ayat ini tidak menjelaskan sampai dimanakah batas tangan yang akan di potong. Maka dari As-Sunnahlah di dapat penjelasannya, yakni sampai pergelangan tangan. (Subulus Salam 4 : 53-55) 

As-Sunnah Sebagai Bayan Dari Mujmal Al-Qur’an. 

Menjelaskan tentang cara shalat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Shalatlah sebagaimana kalian melihatku shalat“. [Hadits Riwayat Bukhari]

Menjelaskan tentang cara haji Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Ambillah dariku tentang tata cara manasik haji kamu“. [Hadits Riwayat Muslim]. Dan masih banyak lagi ayat-ayat yang perlu penjelasan dari As-Sunnah karena masih mujmal. 

As-Sunnah menetapkan dan membentuk hukum-hukum yang tidak terdapat di dalam Al-Qur’an. 

Diantara hukum-hukum itu ialah tentang haramnya keledai negeri, binatang buas yang mempunyai taring, burung yang mempunyai kuku tajam, juga tentang haramnya mengenakan kain sutera dan cincin emas bagi kaum laki-laki. Semua ini disebutkan dalam hadits-hadits yang shahih. Dengan demikian tidak mungkin terjadi kontradiksi antara Al-Qur’an dengan As-Sunnah. 

Imam Syafi’i berkata : “Apa-apa yang telah disunahkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang tidak terdapat pada Kitabullah, maka hal itu merupakan hukum Allah juga. Sebagaimana Allah mengabarkan kepada kita dalam firman-Nya.“Artinya : .Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus, (Yaitu) jalan Allah yang kepunyaan-Nya segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Ingatlah, bahwa kepada Allahlah kembali semua urusan”. [Asy-Syuura : 52-53]. 

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menerangkan hukum yang terdapat dalam Kitabullah, dan beliau menerangkan atau menetapkan pula hukum yang tidak terdapat dalam Kitabullah. Dan segala yang beliau tetapkan pasti Allah mewajibkan kepada kita untuk mengikutinya. Allah menjelaskan barangsiapa yang mengikutinya berarti ia taat kepada-Nya, dan barangsiapa yang tidak mengikuti beliau berarti ia telah berbuat maksiat kepada-Nya, yang demikian itu tidak boleh seorang mahlukpun melakukannya. Dan Allah tidak memberikan kelonggaran kepada siapapun untuk tidak mengikuti sunnah-sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. [Ar-Risalah hal. 88-89] 

Ibnul Qayyim berkata : “ Adapun hukum-hukum tambahan selain yang terdapat di dalam Al-Qur’an, maka hal itu merupakan tasyri’ dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang wajib bagi kita mentaatinya dan tidak boleh kita mengingkarinya. Tasyri’ yang demikian ini bukanlah mendahului Kitabullah, bahkan hal itu sebagai perwujudan pelaksanaan perintah Allah supaya kita mentaati Rasul-Nya. Seandainya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak ditaati, maka ketaatan kita kepada Allah tidak mempunyai arti sama sekali. Karena itu kita wajib taat terhadap apa-apa yang sesuai dengan Al-Qur’an dan terhadap apa-apa yang beliau tetapkan hukumnya yang tidak terdapat di dalam Al-Qur’an.Allah subhanahu wa Ta’ala berfirman : “Artinya : Barangsiapa taat kepada Rasul berarti ia taat kepada Allah”. [An-Nisaa : 80]. 
Diberdayakan oleh Blogger.